Greenpeace: Tahun 2050 Seluruh Dunia Pakai Energi Terbarukan

Instalasi turbin angin dan panel surya di pesisir Pantai Baru Bantul memberikan asupan energi murah dan ramah lingkungan | Foto: Tommy Apriando

Sebuah laporan terbaru dari Greenpeace yang berjudul Energy Revolution 2015, sebuah laporan bersama antara Institute of Engineering Thermodynamics, Systems Analysis & Technology Assessment at the German Aerospace Center, menetapkan skenario yang benar-benar ambisius: 100 persen energi global memakai energi terbarukan pada tahun 2050. Itu tidak hanya berarti nol jaringan listrik yang menghasilkan emisi karbon. Ini berarti segala sesuatu-transportasi, listrik, pemanas dll, – berasal dari sumber daya terbarukan seluruhnya, bahkan tanpa perlu tenaga nuklir (energi terakhir ini masih kontroversial di banyak kalangan)

Greenpeace memiliki pengalaman yang dalam hal memprediksi pertumbuhan energi terbarukan jauh mengalahkan prediksi konservatif yang dibuat oleh IEA, Goldman Sachs atau Departemen Energi AS dalam hal akurasi.

Para penulis laporan Greenpeace bukan satu-satunya orang yang mulai berpikir memakai 100 persen energi terbarukan. AS sudah memiliki peta jalan (roadmap) bagaimana setiap negara bagian di AS bisa mencapai 100 persen energi terbarukan pada tahun 2050, Ibu Kota Australia malah berkomitmen untuk 100 persen listrik terbarukan pada tahun 2025, dan Selandia Baru menargetkan 90 persen energi terbarukan pada saat yang sama.

Dari kesepakatan global yang kuat pada pertemuan Paris Climate Talk menghasilkan komitmen ambisius dari dunia bisnis dan masyarakat, dan badan pemerintah lokal, nasional dan internasional. Namun ada banyak prasyarat agar skenario Greenpeace berjalan dengan baik.

Biaya yang dibutuhkan sangat besar. Tapi manfaatnya juga tak kalah besar, paling tidak, laporan Greenpeace mengklaim untuk menjaga total emisi kumulatif antara sekarang dan 2050, sebesar 667 gigaton, angka aman dalam kisaran 1.000 Gigatonne oleh Panel Internasional tentang Perubahan Iklim (IPCC).

Hal ini akan menciptakan lapangan kerja dan mengurangi tingkat bencana polusi udara.

Sumber: treehugger.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *