Membuat Listrik dari Tandan Sawit, Emang Bisa?

Memanfaatkan limbah sebagai energi alternatif

Tandan kosong kelapa sawit yang dibiarkan berserak di sekitar pabrik, belum dimanfaatkan maksimal | Foto: M. Nizar Abdurrani

Tandan kosong kelapa sawit yang dibiarkan berserak di sekitar pabrik, belum dimanfaatkan maksimal | Foto: M. Nizar Abdurrani

Saat sedang antri mengisi bahan bakar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) saya sering membayangkan betapa banyaknya minyak yang ‘diminum’ oleh kendaraan bermotor. Ribuan liter minyak disedot oleh mesin, dibakar dan kemudian lepas menjadi asap ke udara.

Saat berhenti di traffic light, berada diantara ribuan moda transportasi berlalu lalang, saya membayangkan seandainya minyak dalam tanki semua kendaraan dituangkan ke jalan, bisa-bisa tumpahan minyak tersebut menjadi banjir bandang karena saking banyaknya.

Alangkah rakusnya negeri ini dalam mengkonsumsi bahan bakar. Nyaris tak ada kegiatan manusia tanpa menggunakan bahan bakar minyak.

Walaupun kini banyak orang menggunakan peralatan bertenaga listrik namun sejatinya listrik yang dihasilkan tersebut memakai minyak sebagai bahan bakarnya.

Saya tinggal di Banda Aceh, ibukota Propinsi Aceh yang berjulukan Serambi Mekkah. Negeri yang subur tapi belum begitu makmur ini hingga kini masih diwarnai ‘aksi’ pemadaman listrik baik reguler maupun non reguler.

Non reguler maksudnya listrik padam tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu, ntah karena gangguan alam atau memang sedang terjadi defisit arus. Kekurangan arus listrik sering menjadi alasan pihak berwenang untuk melakukan pemadaman listrik.

Sampai saat ini listrik yang disuplai ke Aceh sebagian besar berasal dari energi bahan bakar fosil sebagai penggeraknya. Bisa dibayangkan berapa ribu kiloliter minyak yang dibutuhkan untuk menerangi rumah-rumah penduduk?

Belum lagi daerah yang tidak terjangkau listrik PT PLN kemudian memakai genset sebagai gantinya. Mereka ini pun cukup ‘rakus’ mengkonsumsi BBM untuk genset sehingga ada ditemui pembangkit listrik ini tidak mampu dioperasikan lagi oleh warga karena kehabisan uang untuk beli minyak.

Tahun 2012 diperkirakan konsumsi BBM mencapai 43,5 juta kiloliter, naik 3,5 juta kiloliter dari kuota 40 juta kiloliter. Sedangkan subsidi minyak tahun ini mencapai Rp.305,9 triliun atau 20 persen dari volume belanja APBN (Kompas, Selasa 16 Oktober 2012).

Konsumsi BBM sebesar ini sangat memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) apalagi Indonesia masih sangat membutuhkan dana untuk pembangunan disegala bidang. Rakyat Indonesia masih menikmati subsidi harga minyak, artinya harga yang kita bayar saat membeli minyak sudah dilunasi sebagian oleh pemerintah.

Secara bertahap pemakaian energi fossil haruslah dikurangi agar tidak membebani keuangan negara dan menimbulkan berbagai persoalan lingkungan di kemudian hari. Terlebih BBM yang sering disebut non renewable energy persediaannya semakin terbatas.

Manusia harus mencari energi terbarukan atau renewable energy yang ternyata potensinya di Nusantara ini sangat besar. Misalnya saja energi panas bumi yang memiliki potensi sebesar 28 gigawatt.

Namun sayangnya dari potensi gigantis tersebut hanya empat  persennya saja yang baru dimanfaatkan. Sementara itu target kebijakan energi nasional Indonesia untuk energi terbarukan sebesar 17 persen.

Ini artinya masih jauh panggang dari api. Selain energi panas bumi ada juga sumber energi lain yang tak kalah besar potensinya di Indonesia yaitu energi dari biomassa atau biomass energy.

Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang merupakan sumber energi biomassa.  Ada beberapa jenis tanaman yang bisa menjadi sumber energi dan tersedia dalam jumlah melimpah seperti tebu, ubi, jagung, sekam, tandan kosong sawit dan banyak lainnya.

Banyak biomassa yang seharusnya bisa dimanfaatkan menjadi energi tetapi terbuang begitu saja seperti tandan sawit. Selama ini tandan kosong hasil dari pemrosesan pada Pabrik Kelapa Sawit (PKS) belum dimanfaatkan maksimal. Panas yang dihasilkan oleh pembakaran tandan kosong menurut hasil penelitian cukup signifikan sebagai sumber pembangkit listrik.

Seorang pakar energi biomassa, Goenadi, D.H., dalam artikelnya yang berjudul, ‘Berburu energi di kebun sawit’ (2006) menyebutkan nilai energi panas (calorific value) dari tandan kosong sebagai bahan bakar generator listrik dapat mencapai 18.796 kJ/kg, suatu jumlah yang cukup signifikan.

Sebagai ilustrasi, sebuah PKS dengan kapasitas 200 ribu ton Tandan Buah Segar (TBS) per tahun menghasilkan 44 ribu ton tandan kosong (kadar air 65 persen) yang mampu membangkitkan energi ekuivalen dengan 2,3 MWe (megawatt-electric) pada tingkat efisiensi konversi 25 persen.

Meningkatnya harga BBM dan gas serta isu pelestarian lingkungan telah meningkatkan pamor biomassa dan limbah biomassa sebagai salah satu sumber energi alternatif. Biomassa adalah bahan organik yang merupakan hasil kegiatan fotosintesis baik berupa produk maupun buangannya. Masalah yang dihadapi adalah bagaimana cara meningkatkan pemanfaatan limbah tersebut sehingga lebih efisien dan memberikan nilai ekonomis tinggi.

Tentu saja diperlukan pengetahuan yang cukup tinggi tentang teknologi serta kearifan memanfaatkannya. Pemanfaatan biomassa tidak dapat mengandalkan swadaya dan kreatifitas masyarakat semata tetapi perlu ditunjang oleh kebijakan yang mendukung dan infrastruktur yang memadai dan berorientasi ke masa depan.

Manfaat penggunaan biomassa juga dapat mendorong penghematan ekonomi/ sumber daya lokal yang ada dan mempercepat pengembangan ekonomi yang sehat di daerah tersebut.

Dengan lahan perkebunan kelapa sawit yang sangat luas, Propinsi Aceh dapat memanfaatan limbah padat PKS menjadi sumber energi listrik. Lebih lanjut, Aceh dapat sumber energi alternatif untuk memecahkan masalah krisis energi yang telah menimpa Aceh selama puluhan tahun yang menghambat peningkatan ekonomi daerah.

Menurut data dari Dinas Kehutanan & Perkebunan Aceh, 2009, terdapat 25  PKS di Aceh yang berlokasi di delapan kabupaten dengan total kapasitas operasi terpakai 551,12 ton/jam. Umumnya PKS tersebut beroperasi 20 jam/hari, terkadang jika bahan baku TBS sedang melimpah pabrik bisa bekerja selama 24 jam/hari.

Melihat hal ini tentu saja limbah padat yang dihasilkan sangat besar dimana jika limbah tersebut tidak dimanfaatkan maka akan mengganggu lingkungan.

Selama ini limbah padat tandan kosong hanya ditimbun atau digunakan untuk penyubur tanaman sawit muda dengan cara menyebarkan disekitar pohon sawit muda. Cara ini baik namun kelemahannya adalah tumpukan tandan kosong menjadi tempat nyaman berkembangnya hama sawit seperti kumbang sawit.

Limbah padat tandan kosong juga dapat diolah menjadi kompos dan briket arang. Untuk pembuatan kompos dapat dikombinasikan dengan limbah cair PKS yang biasa disebut Palm Oil Mill Effluent (POME) dengan metode tertentu. Namun pembuatan kompos dan briket arang hanya dapat digunakan oleh sebagian kecil masyarakat.

Lain halnya seperti pemanfaatan limbah padat sebagai sumber energi listrik yang dapat digunakan secara luas oleh masyarakat.

Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Pengembangan sumber energi listrik dengan menggunakan tandan kosong layak untuk diterapkan di Aceh karena ketersediaan bahan baku yang sangat banyak. Dari sisi pembangunan berkelanjutan, pemanfaatan tandan kosong sebagai sumber energi listrik sangat berpotensi dalam mengatasi persoalan limbah padat pabrik PKS dan kekurangan listrik baik bagi pabrik sendiri maupun daerah sekitarnya.

Pemakaian tandan kosong sebagai energi pengganti bahan bakar fosil dalam penerapannya  membutuhkan biaya yang relatif besar di awal investasinya sehingga terkesan mahal namun dalam jangka panjang akan menghemat banyak dana. Pemakaian tandan kosong sebagai sumber energi listrik bernilai ekonomis karena harga jual listrik yang dihasilkan bisa lebih murah dibanding listrik dari PLN.

Meskipun pemakaian tandan kosong sebagai sumber energi listrik sangat potensial namun berbagai tantangan masih harus diatasi.  Tantangan tersebut antara lain persoalan teknis, institusional, dan tantangan keuangan.

Namun demikian, saat persediaan minyak bumi kita semakin menipis, harga minyak semakin mahal, lingkungan sudah semakin tercemar, apakah patut kita berdiam diri tanpa membuat perubahan skema energi? Kondisi ini menjadi alasan yang kuat agar aplikasi energi biomassa dapat segera dilaksanakan.

Alasan lain yang juga tak kalah pentingnya adalah demi pelestarian lingkungan. Pemakaian biomassa sebagai sumber energi kurang menghasilkan emisi dibandingkan pemakaian BBM yang menghasilkan asap mengandung karbon. Hal ini berarti langit kita bisa lebih biru dan tanaman pun bisa lebih hijau.[]

Sumber: theglobejournal.com

2 Responses to Membuat Listrik dari Tandan Sawit, Emang Bisa?

  1. safrizal says:

    Assalam Mualaikum

    Dengan Hormat..
    Salam kenal, setelah saya membaca artikel bapak, sangat menarik untuk di kaji lebih lanjut. Saya safrizal, sekarang asli dari Ulee Lheue Banda Aceh.. sekarang menetap di Jawa Tengah,, saya hijrah setelah Tsunami,menghancurkan Kecamatan Meuraxa.. propesi sebagai staf pengajar di salah satu PTS di Jateng..sedang melakukan riset pemanfaatan greed energy untuk sumber energy listrik Alternatif.

    Kalau tidak keberatan saya di berikan data kapasitas produksi/jam Pabrik Kelapa sawit di seluruh kabupaten di Provinsi Aceh…Penelitian ini akan berakhir pada Go Green Energy Sumatera.Pemakaian energy listrik dari Green energy per Provinsi seluruh Sumatra,, untuk mencukupi listrik sumatra.

    Terima kasih sebelumnya atas kebaikan Bapak,,untuk sudi kiranya membantu sharring data.

    Wassalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>