Studi: Biofuel Tanaman yang Tepat Melawan GRK

Ilustrasi | Foto: Google.com

Jagung, gandum dan lobak dapat untuk membuat biofuel, layaknya bioetanol dan biodiesel. Temuan terbaru para ahli lingkungan di Radboud University-Belanda, menyebutkan bahwa lahan pertanian untuk menanam tanaman biofuel ini memiliki dampak besar pada emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Studi yang sampai pada kesimpulan diterbitkan oleh Jurnal Nature Climate Change tanggal 11 Mei 2015.

Untuk meningkatkan produksi biofuel dari tanaman seperti jagung dan gandum, tanah perlu dipersiapkan menjadi lahan pertanian. Kegiatan awal ini menimbulkan peningkatan emisi gas rumah kaca (greenhouse gas). Menggunakan model global, Pieter Elshout bersama ilmuwan lingkungan di Radboud University memperlihatkan berapa lama keuntungan yang diberikan biofuel dibandingkan bahan bakar fosil agar setara dengan emisi pada masa penyiapan lahan. Pada skala global, waktu pengembalian rata-rata untuk gas rumah kaca adalah sembilan belas tahun.

Dari Eropa Barat untuk daerah tropis
Seorang kandidat PhD di Universitas Radboud, Elshout, menjelaskan,”Sembilan belas tahun terdengar seperti waktu yang lama, tetapi dalam hal pertanian, itu sama sekali tidak lama. Apalagi angka itu adalah rata-rata global. Di Eropa Barat, periodenya jauh lebih singkat, kadang-kadang hanya beberapa tahun. Di daerah tropis, bisa mencapai seratus tahun. Model ini menunjukkan bahwa lokasi tanaman biofuel memiliki dampak yang signifikan terhadap emisi gas rumah kaca. Lebih daripada jenis tanaman atau tata kelola pertanian (yaitu jumlah pupuk dan irigasi yang digunakan)”.

Model-skala global pertama
Elshout menambahkan,”model kami adalah yang pertama yang menawarkan gambaran global, spasial-eksplisit emisi gas biogenik yang dihasilkan dari tanaman yang digunakan untuk memproduksi biofuel. Dalam mengembangkan model ini, perhitungan kami memperhitungkan jangka waktu pengembalian dengan mempertimbangkan rantai produksi seluruh bahan bakar fosil dan biofuel dengan emisi rumah kaca yang menyertainya. Model global ini berlaku untuk generasi pertama biofuel. Ini termasuk bioetanol dari jagung, gandum dan tebu, serta biodiesel dari kedelai dan lobak.

Perdebatan tentang Pangan
Hasil penelitian memberikan kontribusi terhadap nuansa perdebatan biofuel yang terjadi saat ini di Belanda. Dalam sebuah studi tindak lanjut pada pertanian tanaman biofuel, Elshout dan rekan-rekannya berharap untuk menyelidiki masa pengembalian yang terkait dengan dampak terhadap keanekaragaman hayati.[]

Referensi: Title: Greenhouse gas payback times for crop-based biofuels
P. M. F. Elshout, R. van Zelm, J. Balkovic, M. Obersteiner, E. Schmid, R. Skalsky, M. van der Velde and M. A. J. Huijbregts
Nature Climate Change
DOI: 10.1038/nclimate2642

Sumber: www.ru.nl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *