Pedagang Kalong Kesulitan Dapat Pasokan

Diperkirakan Populasi Kalong Merosot

Andreas Ginting dengan kalong dagangannya di Medan | Foto: SCORPION

Pegiat konservasi yang berbasis di Sumatera, yakni Jaringan Pemantau Perdagangan Satwa, SCORPION, secara terus-menerus mengingatkan terjadinya peningkatan perburuan kalong secara tidak lestari.

Misalnya saja di Jalan Jamin Ginting di wilayah Desa Kampung Tengah, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, sekitar 30 menit dengan mengendarai mobil dari Medan ke Berastagi, merupakan tempat yang biasanya mudah untuk menemukan kalong. Namun, pada bulan lalu, sangat sedikit kalong dijual di sini. “Sekarang sudah semakin sulit menangkap kalong. Oleh karena itu, sangat sedikit yang bisa kita jual dalam 1 bulan terakhir ini,” kata Andreas Ginting, seorang penjual kalong di Kampung Tengah.

Kalong di dalam kandang untuk dijual | Foto: SCORPION

Kalong di dalam kandang untuk dijual | Foto: SCORPION

Andreas menjelaskan kepada Investigator ​SCORPION, biasanya ia menangkap kelelawar buah di provinsi Aceh dan provinsi Riau, keduanya merupakan dua provinsi tetangga Sumatera Utara. “Saat ini, polisi ketat mengontrol perbatasan Sumatera Utara dan provinsi Aceh, jadi saya berhenti menangkap kalong di Aceh,” katanya.

“Dari Riau, tidak ada masalah untuk mengangkut kalong ke Sumatera Utara, tapi masalahnya adalah, kita tidak bisa menangkap kalong lagi di sana. Saya baru-baru ini pergi ke Pekanbaru di Riau untuk menangkap kalong tapi tak bisa menangkap satupun. Oleh karena itu, saya menangkap kalong hanya sekitar desa ini (di wilayah kecamatan Sibolangit). Biasanya, saya bisa menangkap 2 atau 3 ekor  per minggu, ”  jelas Andreas.

Kalong yang kian langka | Foto: SCORPION

Kalong yang kian langka | Foto: SCORPION

Beberapa penjual kalong telah menghentikan aktivitasnya karena mereka tidak bisa menemukan kalong untuk ditangkap sehubungan populasinya yang anjok karena perburuan yang terlalu banyak.

Marison Guciano dari SCORPION mengatakan, “Penangkapan dan pembunuhan kalong harus berhenti sekarang, sebelum kita kehilangan semua kalong di Sumatera. Mereka adalah bagian penting dari lingkungan kita dan kita semua membutuhkan mereka karena mereka membantu menyebarkan biji-bijian dari berbagai pohon buah ke berbagai penjuru lahan. ”

Menurut seorang pedagang kalong, Andreas, tahun lalu mereka menjual kalong dengan harga sekitar Rp 50.000 per kalong. Tapi sekarang harganya sudah naik mencapai Rp300.000 per ekor.

Kalong yang dikategorikan oleh World Conservation Union, IUCN, dengan status “Near Threatened” (“Hampir Terancam”). Ini perlu penilaian ulang oleh para ahli kalong apakah status tersebut masih sesuai. Mamalia unik ini mungkin telah menjadi spesies yang terancam punah yang juga perlu masuk dalam daftar spesies yang dilindungi di Indonesia. Spesies ini berada di bawah ancaman serius di Sumatera Utara karena informasi yang salah yang mengatakan daging kalong bisa menyembuhkan penyakit asma.

Beberapa waktu lalu, SCORPION melaporkan penjualan kalong di Jalan Sudirman dan Jalan Bintang (FL. Tobing) Medan, tetapi pada saat melakukan kunjungan ulang pada hari Senin (3 Agustus 2015), SCORPION tidak melihat adanya penjualan kalong lagi di sana.

Marison Guciano menambahkan, “Kami menghimbau kepada pemerintah agar kiranya dapat mengupayakan perlindungan spesies ini sebelum terlambat dan sebelum semuanya punah untuk selamanya. Perdagangan kalong perlu dilarang meskipun hanya untuk sementara. “[rel]

3 Responses to Pedagang Kalong Kesulitan Dapat Pasokan

  1. Maria says:

    Di tempat saya banyak sekali populasi kalong, jika ada yg berminat mencari kalong bisa hub email saya. Terima kasih.

  2. Leo saputra says:

    Di tempat saya banyak kalong.. Berapa berani bayar per ekornya bagi yang serius.. No hp 085261027115

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.