TFCA Sebut Harimau Sumatera Tinggal 400 Ekor

Ilustrasi | Foto: int

Lebih kurang 4.000 harimau diyakini yang masih hidup bebas di luar penangkaran namun, usaha untuk melindungi harimau mengalami hambatan karena ketidakpastian jumlah subspesies yang masih ada berkeliaran di alam bebas. Upaya untuk menyelamatkan harimau dari kepunahan mengalami peningkatan setelah para ahli ekologi menyampaikan, harimau yang masih hidup di alam liar tinggal enam jenis di dunia.

Beberapa waktu lalu, sebuah hasil penelitian inovatif mengungkapkan, jumlah subspesies yang masih berkeliaran di alam liar tinggal enam jenis, yaitu, Harimau Bengal, Harimau Amur, Harimau Cina Selatan, Harimau Sumatra, Harimau Indocina, dan Harimau Malaya. Peneliti menambahkan bahwa tiga subspesies lain yang pernah ada dipastikan telah punah.

Dr Shu-Jin Luo dari Peking University di Tiongkok, mengatakan, kurangnya konsensus mengenai jumlah subspesies harimau telah menghambat upaya global dalam memulihkan spesies harimau dari petaka kepunahan.

“Hal itu terjadi karena penangkaran dan intervensi lansekap populasi liar semakin membutuhkan penggambaran eksplisit atas unit pengelolaan konservasi. Penelitian ini adalah yang kali pertama mengungkap sejarah alam harimau dari perspektif genom utuh. Hasilnya memberikan bukti yang kuat mengenai asal usul alam dan evolusi dari spesies megafauna yang kharismatik ini,” jelas Dr Luo.

Dr Luo dan rekan-rekan memulai penelitian dengan mengumpulkan tiga bukti genetik yang sebelumnya telah mereka temukan melalui riset mengenai sejarah evolusi harimau dan struktur populasi menggunakan pendekatan genom utuh untuk melihat urutan DNA harimau lengkap.

Mereka juga mengimplementasikan metode skrinning untuk mencari bukti kelompok harimau yang berbeda yang telah mengalami seleksi alam untuk beradaptasi dan berkembang biak. Mereka pun menemukan bahwa harimau telah ada di dunia semenjak dua hingga tiga juta tahun lalu.

Namun, bukti gen harimau yang mereka gunakan untuk penelitian, memperlihatkan partisipan harimau tersebut baru ada di dunia sekitar 110.000 tahun silam ketika predator mengalami kendala dalam berpopulasi.

Keragaman genetiknya yang terbatas justru mengantarkan para peneliti menemukan bukti bahwa subspesies harimau masing-masing memiliki sejarah evolusi yang unik dengan melihat pola yang sangat terstruktur di seluruh kelompok.

“Temuan ini cukup unik untuk kelompok kucing besar. Populasi harimau tidak ada campuran dengan hewan lain, seperti misalnya jaguar, yang terbukti mengalami campuran populasi di seluruh benua,” tulis Yu-Chen Liu, Peneliti Utama Studi.

Dia menambahkan, subspesies harimau memiliki fitur yang berbeda. Harimau Amur memiliki tubuh yang besar dengan bulu oranye pucat, sedangkan harimau Sumatra di Kepulauan Sunda tubuhnya cenderung lebih kecil dengan bulu yang gelap dan tebal.

Berdasarkan Tropical Forest Conversation Action (TFCA) Sumatera, Harimau Sumatra adalah subspesies terakhir dari jenis harimau yang berpopulasi di Indonesia. Dua jenis harimau lainnya di Indonesia, Harimau Bali sudah punah semenjak tahun 1940-an dan Harimau Jawa sudah tidak lagi pernah terlihat semenjak tahun 1980-an. Jumlah Harimau Sumatra diperkirakan tinggal tersisa 400 ekor saja.

Dr Luo mengatakan bahwa sinyal seleksi terkuat yang mereka temukan ada pada harimau sumatra, yakni mengandung gen ADH 7 yang berhubungan dengan ukuran tubuh di seluruh wilayah genom.

Para peneliti berpendapat, ukuran tubuh Harimau Sumatra yang lebih kecil bisa jadi karena kebutuhan energinya tidak sebesar jenis harimau lainnya. Lingkungan hidup Harimau Sumatra dan mangsa yang lebih kecil, seperti babi hutan dan anak rusa, mempengaruhi ukuran dan energi harimau sumatra.

“Harima dari Rusia secara evolusi berbeda dengan yang berasal dari India. Bahkan, harimau dari Malaysia sama sekali berbeda dengan yang berasal dari Indonesia,” jelasnya.

Jenis asal-usul spesies Harimau Cina Selatan masih belum terselesaikan oleh para peneliti. Pasalnya, hanya ada satu harimau tersebut yang ada di penangkaran karena subspesies lainnya telah punah di alam liara.

Para peneliti berencana untuk mempelajari spesimen lama dengan pengetahuan yang mereka dapat dari seluruh daratan Tiongkok untuk mengungkap sejarah evolusi harimau yang masih hidup di dunia. Mereka juga mengambil informasi dari gen specimen, termasuk yang mewakili harimau Caspian, Jawa, dan Bali yang punah.

Sumber: Journal Current Biology