Bagaimana Peran Masyarakat Dalam Menjaga Hutan KEL?

Pembicara dalam seminar nasional KEL | Foto: Ist

Banda Aceh – Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) saat ini terus saja mengalami ancaman kerusakan yang disebabkan oleh berbagai pihak. Namun demikian upaya-upaya penyelamatan KEL tetap saja bisa dilakukan oleh semua pihak. Kondisi KEL saat ini relative dianggap lebih baik dibandingkan hutan-hutan lain yang berada di Sumatera. Apa yang bisa dilakukan kelompok masyarakat sipil dalam rangka penyelamatan hutan KEL?

Pertanyaan ini coba dijawab dalam seminar nasional yang bertemakan “Peran Pemerintah dan Masyarakat terhadap Penegakan Hukum Serta Pemanfaatan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Sebagai Paru-paru Dunia” di Gedung AAC Dayan Dawood Darussalam Banda Aceh, Senin (17/9/2018). Pembicara dalam seminar ini antara lain Dede Suhendra (Program Manager Northern Sumatera WWF), Guntur M. Tariq, S.Ik (Dit Reskrimsus Polda Aceh) dan Farwiza Farhan (Yayasan HAkA) serta moderator Ir. T. Muhammad Zulfikar dari Yayasan Ekosistem Lestari.

Dede Suhendra dalam pemaparannya mengatakan kelompok masyarakat dapat membentuk lembaga pengawas (Watchdog) yang secara kritis menyuarakan perlunya perlindungan KEL. Hal ini bisa dilakukan melalui kegiatan advokasi, baik yang bersifat litigasi maupun non litigasi. Selain itu masyarakat juga dapat mempromosikan etika pelestarian yang baik, agar meningkatkan kesadaran semua pihak dan melakukan aksi-aksi konservasi di daerah-daerah strategis dalam KEL.

“Kolaborasi dan kerjasama strategis masyarakat biar bisa mempromosikan bagaimana pengelolaan terbaik di KEL,” ujarnya.

Banyak sudah pengelolaan hutan yang menjalankan praktek-praktek terbaiknya yang berbasiskan pada perlindungan dan pelestarian lingkungan, tukasnya.

Seminar Nasional ini dilaksanakan oleh Asian Law Students’ Association (ALSA) Local Chapter Universitas Syiah Kuala, dihadiri tak kurang dari 200-an peserta yang berasal dari 13 anggota dari perguruan tinggi di Indonesia yang merupakan anggota ALSA.

KEL adalah wilayah yang secara alami terintegrasikan oleh faktor-faktor bentangan alam, dan memiliki kekayaan keanekaragaman hayati.

Berbagai kegiatan pembangunan turut andil memberikan ancaman bagi kelestarian Leuser. Pertambahan jumlah penduduk, kegiatan investasi di wilayah hutan, pembangunan infrastruktur yang tidak mempertimbangkan fungsi-fungsi ekologi dan banyak sekali kegiatan illegal dalam KEL, merupakan hal-hal yang menjadi tekanan bagi paru-paru dunia ini.