Farwiza: Kerusakan KEL Ancam Empat Juta Penduduk

Sejumlah mahasiswa mengeksplorasi area hutan Stasiun Penelitian Ketambe di dalam Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Desa Ketambe, Aceh Tenggara, Aceh, Rabu (28/11/2018) | Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)

Banda Aceh – Perlindungan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) sangat penting, karena merupakan kawasan strategis nasional. “Ekosistem Leuser adalah kawasan strategis nasional karena fungsi lingkungan KEL. Sangat penting untuk melindungi kawasan ini, karena menyediakan air dan udara bersih serta mengurangi dampak bencana, seperti erosi, hama, dan perubahan iklim,” Kata ketua HAkA Foundation, Farwiza Farhan, Rabu (19/12/2018).

Namun, Farwiza menyatakan keprihatinan karena area ini telah dirambah oleh pembukaan lahan untuk perkebunan, industri, dan jalan. Kegiatan pembangunan membahayakan kelangsungan hidup flora dan fauna yang dilindungi di Leuser, tambahnya. Sebanyak sekitar empat juta orang Aceh yang tinggal di KEL terancama kehidupannya.

Berdasarkan data terbaru HAkA, 3.290 hektar kawasan Leuser hancur selama periode Januari-Juni 2018, sedikit menurun dari 3.780 hektar yang rusak selama periode yang sama di tahun sebelumnya.

Ekosistem Leuser mencakup total 2,6 juta hektar kawasan hutan utuh yang terletak di Aceh dan Provinsi Sumatra Utara di Pulau Sumatera.

Dari 2,6 juta hektar, sekitar 2,25 juta hektar berada di Provinsi Aceh yang mencakup 13 kabupaten dan kota, sementara 384 ribu hektar sisanya berada di Provinsi Sumatera Utara.

“Kami sadar bahwa banyak orang tidak menyadari KEL, khususnya di perkotaan seperti Banda Aceh. Oleh karena itu, kami didorong untuk mengkampanyekan perlindungan kawasan hutan yang luas di Aceh,” ia menekankan.

KEL Aceh adalah rumah bagi 8.500 spesies tanaman, 105 spesies mamalia, dan 382 jenis burung, katanya.

Selain itu, Ekosistem Leuser adalah hamparan hutan hujan yang langka dan utuh yang merupakan satu-satunya tempat yang tersisa di Bumi di mana harimau Sumatra, orangutan, gajah, dan badak hidup bersama di alam liar.

Pemerintah Aceh berkomitmen untuk melindungi dan melestarikan hutan Leuser, yang merupakan prioritas dalam kebijakan lingkungan, katanya. Pelaksana tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah pernah mengatakan bahwa selama tahun ini, tidak ada satu pun proyek infrastruktur yang dilaksanakan di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL).

“Sesuai dengan rencana tata guna lahan Aceh, tidak ada pembangunan infrastruktur yang dilakukan di dalam TNGL. Tidak ada upaya sistematis oleh Pemerintah Aceh untuk membahayakan TNGL dan KEL,” kata Nova Iriansyah. []

Sumber: antaranews.com