Mengembangkan Ekowisata Gunung Leuser

Menghabiskan waktu libur di hutan yang dipenuhi pohon raksasa, dikelilingi oleh satwa liar Sumatra. Sudah beberapa hari saya menghabiskan malam di tanah Aceh. Namun malam ini adalah malam terpulas saya: terlelap di dalam kantong tidur di atas pondok kayu, di tengah dekapan dinginnya hutan.

Dari balik pondok kayu, air terdengar deras mengalir. Dan pagi itu suara hutan seolah membangunkan semua pengunjung yang tidur di pondok kayu. Ada tiga pondok kayu yang dapat digunakan di sana, setiap pondok dapat menampung tiga orang.

Satu bilik kamar mandi dengan bak penampung air yang cukup besar, tersedia di bagian tengah. Air dalam bak selalu berlimpah dan tumpah, karena isinya berasal dari sungai yang bergejolak di samping pondok.

Joop Hege seorang pelancong muda berkebangsaan Belanda yang sudah menghabiskan lebih dari tiga malam di sana, awalnya bagai tersihir oleh cerita keindahan Kedah dari pelancong lain yang ia temui di jalan, dalam perjalanannya melintasi Sumatra. Ia pun mengaku amat betah di tempat ini, tempat yang nyaman untuk bersatu dengan alam. Ia menghabiskan hari-harinya dengan keluar masuk hutan, juga menginap di tenda.

Di setiap pondokan tersedia tiga buah kasur dan tiga buah kantong tidur, dan makanan tersedia saat sarapan dan malam hari di salah satu pondok makan, di dekat dapur yang apinya selalu didekati para pelancong untuk menghangatkan badan.

Rajali Jemali atau yang dikenal dengan panggilan Mister Jali bersama beberapa rekannya dari Dusun Kedah, Desa Panosan Sepakat, Kecamatan Blangjerango, Kabupaten Gayo Lues, Nangroe Aceh Darussalam, mengelola penginapan serta wisata jelajah hutan di kaki Gunung Leuser ini.

IFACS (Indonesia Forest and Climate Support), sebuah program yang bernaung di bawah USAID, menggandeng Indecon (Indonesia Ecotourism Network), sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam pengembangan dan promosi ekowisata di Indonesia, untuk menggerakkan masyarakat mengembangkan ekowisata di daerah Kedah ini.

Mengapa ekowisata? “Kami percaya bahwa ekowisata punya dampak untuk mengembangkan ekonomi tanpa emisi karbon yang tinggi,” ujar Tisna Nando, Communication Specialist IFACS untuk daerah Aceh. Tak hanya di Gayo Lues, IFACS juga mengembangkan ekowisata di Aceh Tenggara dan Aceh Selatan.

Sumber: NGI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *