75 Titik Api Ditemukan di Hutan Aceh

Ilustrasi | Foto : AP

Kebakaran hutan dan lahan di Aceh sudah memasuki masa darurat. Titik api yang berhasil ditemukan dari pantauan Satelit NOAA18 sejak Selasa (11/2/2014) hingga Kamis (13/2/2014) tercatat sebanyak 75 titik api. Melihat kondisi ini, tentu Pemerintah Provinsi (Pemprov)  Aceh harus bisa bekerja cepat dan tepat guna memadamkan titik api yang sebagian mulai menjalar ke perkampungan penduduk, seperti di kawasan Tangse, Kabupaten Pidie dan sejumlah daerah lainnya di Aceh.

“Aceh merupakan peringkat kedua tertinggi kebakaran hutan (hotspot) setelah Riau. Ini tidak bisa dibiarkan berlama-lama atau menunggu kobaran api padam dengan sendirinya,” ujar akademisi dan pengamat lingkungan Aceh, TM Zulfikar kepada Analisa, Kamis (13/2/2014).

Dari pantauan hotspot satelit NOAA18, titik api terbesar di Sumatera, yakni di Riau 243 lokasi, sedangkan di Sumatera Utara (Sumut) 74 titik. Hanya saja, meskipun titik api di Sumut lebih kecil, namun bisa juga memengaruhi kondisi di Aceh dengan sebaran asap.

Menurut Zulfikar, upaya Pemprov Aceh untuk menurunkan emisi rumah kaca sejauh ini tak berjalan baik, bahkan bisa dibilang omong kosong. Sebab, penurunan emisi rumah kaca ini sangat berpengaruh dengan kebakaran hutan yang terjadi.

Karenanya, sudah saatnya Pemprov Aceh meminta bantuan pemerintah pusat untuk memadamkan kobaran api, terutama di kawasan yang sangat rawan dengan kebakaran hutan dan lahan ini. Sebab, bagaimana pun, Pemprov Aceh belum mampu mengatasinya sendiri karena tak memiliki alat yang memadai. “Sejauh ini hanya pemerintah pusat yang mempunyai alat untuk memadamkan api dari udara, sedangkan kami belum ada,” ujar Zulfikar.

Di lain pihak, Zulfikar mengungkapkan, sudah saatnya Aceh memikirkan bagaimana cara melakukan pencegahan kebakaran hutan setiap tahun, sebab peristiwa kebakaran hutan ini menjadi penyakit klasik yang terus terulang bila musim kemarau.

Kalau saat terjadi kebakaran hutan baru melakukan pemadaman, sama saja Pemprov Aceh seperti petugas dinas kebakaran, yakni bekerja untuk memadamkan api bila sudah terjadi kebakaran, namun upaya pencegahannya tak pernah dipikirkan.

Kondisi di Aceh merupakan sebuah fenomena. Bila musim kemarau seperti sekarang sangat rawan terjadi kebakaran. Dari hasil pantauan media sudah ditemukan titik api pada lima kabupaten/kota akibat kebakaran hutan. Sementara bila musim penghujan tiba, maka musibah banjir terus mengincar sejumlah kabupaten/kota di Aceh. Musibah banjir ini juga terus terulang setiap tahun dan hanya lewat keajaiban alam saja bisa susut kembali tanpa upaya pencegahan.

Lahan Sawit Terbakar
Dilaporkan, puluhan hektar lahan kelapa sawit milik masyarakat di Kecamatan Kuala Batee dan Kecamatan Babahrot, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) sejak beberapa hari lalu terbakar. Diduga kebakaran lahan perkebunan tersebut akibat suhu yang sangat panas yang menerpa daerah ini sejak sebulan lalu.

Informasi diperoleh Analisa, Kamis (13/2), beberapa titik api muncul di kawasan Jalan 30 Gampong  Persiapan Lhok Gayo, Gampong Persiapan Rukon Damai Geunang Jaya, dan di Alue Mantri Gampong Persiapan Blang Raja. Kecamatan Babahrot. Bukan saja lahan perkebunan yang dilalap api, tetapi juga areal hutan setempat.  Titik api muncul di lokasi Alue Baneng Gampong Sejahtera dan di kawasan Batee Deumam Gampong Ie Mirah, Kecamatan Babahrot.

Untuk Kecamatan Kuala Batee, dilaporkan titik api yang membakar lahan bergambut muncul di beberapa titik, yaitu di kawasan perkebunan Drien Leukit Gampong Blang Makmur sampai ke perbatasan Krueng Teukuh.

Kendati petani bersama Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Abdya sudah berupaya melakukan pemadaman, namun hingga Kamis (13/2) sebagian titik api masih berkobar, terutama di kawasan Alue Mantri dan Drien Leukit. “Titik api masih muncul hingga hari ini. Diperkirakan sekitar 30 hektare (ha) lebih lahan kelapa sawit milik petani terbakar sejak kemarin,” ujar Bakti, petani setempat, kepada wartawan, Kamis (13/2).

Bakti menambahkan, sekitar 11 ha lahan kelapa sawit miliknya yang baru berumur tiga bulan juga ikut terbakar. Kebakaran itu selain akibat suhu panas yang melanda Abdya sejak sebulan lalu, diduga muncul dari lahan bergambut serta disebabkan oleh api yang bersumber dari lahan yang baru dibuka dengan cara membakar oleh sejumlah petani. Upaya pemadaman yang dilakukan warga secara manual menjadi terkendala karena sulit mendapatkan sumber air, setelah saluran pembuang di kawasan areal perkebunan kering kerontang.

Sementara itu, kebakaran dengan cepat meluas membakar lapisan lahan gambut yang sudah kering diterpa suhu panas, setelah lebih dua pekan terakhir tidak diguyur hujan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten (BPBK) Abdya, Jusbar saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis (13/2) menyebutkan, pihaknya mengaku sudah melakukan pemadaman sejak Senin (10/2) dengan mengerahkan tiga unit mobil pemadam kebakaran.

Disebutkan, hingga hari ini pihak BPBK setempat masih melakukan pemadaman di kawasan Drien Leukit. Petugas kesulitan melakukan pemadaman karena tak ada akses jalan yang dapat dilalui oleh armada pemadam kebakaran.

Sumber: analisadaily.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *