Sadar Bencana Mengancam, Masyarakat Tolak Bendungan Tampur

T. M. Zulfikar saat memberikan presentasi dampak Bendungan Tampur di Aceh Tamiang | Foto: Leoni

Para perwakilan desa, datok dan geuchik di Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Tamiang setuju menolak proyek Bendungan Tampur. Pernyaataan ini disampaikan dalam acara diskusi dan pemutaran film lingkungan yang diadakan di Kuala Simpang Jumat (26/10/2018) lalu.

Selama diskusi, TM. Zulfikar dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) mempresentasikan dampak ekologi dan sosial dari pembangunan pembangkit listrik Tampur sesuai studi yang dilakukan dengan melakukan analisis spasial melapisi wilayah bendungan. Analisis menunjukkan dampak ekologi dan sosial dari proyek bendungan yang meluas ke lebih dari 300 kilometer persegi kawasan hutan yang dua pertiga nya belum terjamah aktivitas manusia. Proyek bendungan ini akan memotong Ekosistem Leuser, lanskap hutan hujan purba yang utuh di Sumatra di mana spesies yang terancam punah seperti orangutan, gajah, badak dan harimau Sumatra hidup bersama di alam liar.

Hasanuddin dari Desa Pantai Jempa, setuju menolak proyek ini karena dia melihat lebih banyak dampak negatif dari pembangunan pembangkit listrik tenaga air. Selain itu, ketua komunitas dari Kecamatan Simpang Jernih Andika menyadari bahwa setelah mengetahui informasi tentang dampak negatif yang disajikan dalam diskusi, mereka sekarang menolak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air Tampur. “Kami hanya diberitahu oleh perusahaan tentang dampak positif sejauh ini, tetapi kami tidak menyadari dampak negatifnya. Sekarang kami tahu dan kami akan menentang proyek ini,”tegasnya.

Aktivis perempuan setempat, Iep Halimatussadiyah juga menyampaikan keprihatinannya tentang dampak pembangunan bendungan pada konflik manusia dan satwa liar di sekitar daerah tersebut. “Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) tidak secara jelas menyatakan bagaimana mekanisme perpindahan satwa liar dari daerah banjir, ini akan berpotensi meningkatkan jumlah konflik antara gajah liar dan manusia di sekitar desa. Sejauh ini konflik satwa liar terutama gajah liar masih sulit untuk dihadapi, jadi kami tidak dapat bergantung pada perusahaan bendungan untuk menyelesaikan masalah ini, ”kata Iep.

Perwakilan masyarakat yang hadir dalam diskusi sepakat untuk secara tegas menolak pembangunan bendungan Tampur demi menyelamatkan nyawa ribuan orang yang tinggal di hilir Sungai Tamiang dari bencana buatan manusia. Mereka memberikan dukungan dengan menandatangani tanda tangan dan bergabung dengan petisi online www.change.org/tolakpltatampur yang saat ini telah menerima 75.000 tanda tangan. (Leoni)