Ilmuwan Unsyiah Ciptakan Pestisida Alami Ekstrak Bawang Putih

Bawang putih | Foto: int

Peneliti dan dosen pada Program Studi Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah Kuala (FMIPA Unsyiah), Dr Khairan Yusuf MSc, menemukan suatu formula yang efektif sebagai pestisida alami untuk membasmi cacing Aphelenchoides sacchari dan Aphelenchoides grayi pada tanaman jamur.

Formula itu berupa ekstrak bawang putih. Di samping itu, ekstrak metanol bawang putih juga efektif membunuh cacing pada tanaman wortel, membunuh cacing C elegens maupun cacing root knot dalam waktu 40 menit.

Sementara itu, minyak bawang putih (garlic oil) dilaporkan efektif membunuh cacing pada tanaman kentang dan pada usus kambing Haemonchus concortus. Ekstrak bawang putih juga efektif digunakan sebagai repellent untuk mengusir hama ular dan kalajengking, karena aroma yang dikeluarkannya sangat menyengat.

Hasil riset Dr Khairan itu disampaikan Ketua Tim Focal Research Area (FRA) FMIPA Unsyiah, Dr Zulkarnain Jalil MSi kepada media di Banda Aceh, Senin (10/3/2014) sore setelah lebih dulu dipaparkan Dr rer nat Khairan Yusuf MSc untuk kalangan internal pada Forum SDM Focal Research Area FMIPA Unsyiah di balai senat fakultas itu, Jumat (7/3/2014).

Peneliti merekomendasikan bahwa bawang putih yang sebagian besar merupakan produk impor, dapat dikembangkan secara luas di Aceh untuk aplikasi sebagai pestisida alami.

Sebagaimana diketahui, bawang putih dan bawang merah telah lama digunakan sebagai obat rakyat karena bersifat antimikrobial, antijamur, dan sebagai desinfektan. Uji laboratorium menunjukkan bahwa tanaman ini kaya akan kandungan senyawa sulfur seperti Alliin, Allicin, dan beberapa senyawa polisulfan lainnya. “Senyawaan ini telah diketahui menunjukkan reaktivitas yang tinggi terhadap berbagai jenis penyakit seperti kanker dan kecenderungannya sebagai fitoprotektan dan pestisida alami,” kata Zulkarnain mengutip sang peneliti.

Sang peneliti yang jebolan Universitas Saarbruecken, Jerman itu  menyebutkan bahwa tujuan utama dari penelitian ekstrak bawang putih itu adalah untuk melihat aktivitas senyawa organo-sulfur dari bawang putih dan senyawa analog untuk aplikasi pada bidang pertanian sebagai green pesticides (pestisida alami).

Penelitian itu berlangsung hampir tiga tahun, bekerja sama dengan dua universitas terkemuka di Jerman, yakni Saarbruecken University dan Kaiserlautern University. Hasilnya menunjukkan, Allicin adalah senyawa utama yang terdapat di dalam bawang putih. Khairan lalu melakukan uji aktivitas terhadap cacing Steinernema feltiae (SF) untuk melihat aktivitas dan toksisitasnya terhadap cacing dimaksud.

Oleh peneliti, cacing SF hanya digunakan sebagai model mikroorganisme uji prescreening. Alasan pemilihan cacing ini adalah harganya murah dan mudah didapat. Cacing ini pertama kali diisolasi oleh Felipjev, peneliti berkebangsaan Rusia pada tahun 1934.

Cacing SF adalah cacing mikro yang di Eropa umumnya digunakan sebagai pupuk alami atau predator alami untuk hama penggerek batang, daun, dan akar dan insektisida lainnya.

Alhasil, Khairan menemukan bahwa Allicin memiliki aktivitas yang sangat baik terhadap cacing SF dan diallyldisulfid  (produk utama hasil dekomposisi dari Allicin) juga menunjukkan toksisitas yang sangat tinggi terhadap aktivitas cacing SF.

Pestisida Ramah Lingkungan
Menurut Dr Khairan Yusuf, hasil riset yang dia lakukan selama tiga tahun itu dapat diaplikasikan untuk produksi pestisida alami (green pesticides) jenis baru yang ramah lingkungan. Bahkan nantinya bisa dikembangkan menjadi suatu produk komersial dalam bidang agroindustri.

Ia berharap Pemerintah Aceh berkerja sama dengan perguruan tinggi dan instansi terkait mengembangkan suatu lembaga penelitian seperti Pusat Antarstudi (PAU) yang berbasis sumber daya alam. Termasuk memanfaatkan sumber daya alam Aceh yang berlimpah untuk dikembangkan sebagai jenis obat baru yang sangat diperlukan dalam bidang kesehatan dan pertanian.  []

Sumber: serambinews.com