Cukupkah Tolak Caleg Pohon?

Ilustrasi | Foto: int

Belakangan banyak beredar opini bahwa jangan memilih caleg yang memasang poster di pohon dikarenakan caleg ini merusak pohon dengan memaku poster di pohon-pohon tersebut. Caleg ini dianggap tidak pro lingkungan, bahkan dicap merusak lingkungan. Apakah benar, caleg-caleg yang posternya dipaku pada batang pohon tidak peduli lingkungan? Rasanya terlalu sederhana dengan hanya menilai seseorang itu cinta lingkungan hanya sebatas memaku pohon. Simplikasi ini agak menyesatkan, sehingga banyak kita lihat orang-orang mengklaim dirinya cinta lingkungan gara-gara menanam pohon. Apakah cukup cinta lingkungan dengan tidak memaku pohon?

Anjuran untuk memilih caleg yang cinta lingkungan memang sangat tepat ditengah minimnya dukungan politik bagi pelestarian lingkungan dari wakil rakyat. Tetapi tidak hanya sebatas itu ekspresi cinta lingkungan. Harus diselidiki lebih dalam bagaimana visi dan misi caleg terkait kepeduliannya terhadap lingkungan secara lebih luas, bukan hanya semata menanam pohon. Ada banyak tema-tema lain seperti pengelolalaan sumber daya alam, pengelolaan sampah, taman kota, kepedulian terhadap pejalan kaki, mencari bahan bakar alternatif, hemat energi dan banyak lainnya. Mereduksi isu lingkungan sebatas batang pohon sangatlah naif.

Pemilu sendiri ternyata belum ramah lingkungan jika kita lihat perhelatan ini dari perspektif penggunaaan material pemilu. Kita sebut saja mulai dari spanduk, poster, banner dan media peraga lain yang menggunakan bahan baku dari plastik. Spanduk modern saat ini nyaris semuanya menggunakan karet sintetis yang tidak dapat diurai oleh alam. Berapa banyak limbah plastik yang dihasilkan dari ribuan meter yang terbuang percuma mencemari tanah-tanah kita? Belum lagi ribuan liter tinta yang dipakai menulis spanduk.

Selain spanduk juga ada pencetakan kertas suara yang mungkin membutuhkan jutaan kilogram kertas yang berarti ribuan perlu dipotong untuk dibuat pulp, bahan baku kertas. Belum ada aktivitas-aktivitas kampanye yang dilakuan dengan menghadirkan ribuan massa yang ujung-ujungnya menghasilkan jutaan kilogram sampah. Selain itu, konvoy-konvoy kendaraan bermotor memperparah jejak karbon. Benar-benar pemilu yang tidak ramah lingkungan.

Di beberapa negara maju, ada dilakukan pemilihan pemimpin secara elektronik, yaitu dengan hanya menekan tombol pada perangkat tertentu. Metode ini jauh lebih ramah lingkungan dibanding metode konvensional seperti sekarang ini. Ada banyak perubahan yang harus dilakukan jika ingin benar-benar disebut Pemilu ramah lingkungan.

Pohon bukan segalanya, hanya salah satu sisi. Tetapi jangan hanya berhenti disitu saja, ada banyak aspek harus dibenahi, komprehensif lah.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *