Membangun Teknologi Ramah Lingkungan

Ilustrasi | ahabe.wordpress.com

Pemanfaatan teknologi ramah lingkungan sangat banyak macamnya. Mulai dari penggunaan sepeda motor listrik, pembangkit listrik energi air, energi angin, energi matahari dan sebagainya. Teknologi-teknologi ini dalam skala percobaan telah berhasil diterapkan oleh banyak lembaga penelitian terutama kampus-kampus ternama. Bahkan belakangan juga sedang trend perlombaan mobil listrik yang mengikutsertakan mahasiswa-mahasiswa. Sebuah kebanggaan besar bila berhasil menjadi juara dalam lomba-lomba bergengsi ini. Namun bagaimana pemanfaatannya dalam masyarakat?

Sepertinya pemanfaatan teknologi ramah lingkungan belum maksimal, tidak banyak berkembang sebagaimana diharapkan. Sejumlah kendala masih belum dapat diatasi, mulai dari biaya peralatan yang mahal, ketersediaan suku cadang dan persepsi masyarakat yang belum tepat tentang teknologi ramah lingkungan itu sendiri. Alih-alih teknologi bermanfaat luas, malah teknologi ini hanya menjadi pajangan semata di kampus-kampus atau hanya menjadi bahan seminar untuk segilintir elit.

Dulu saya pernah menulis tentang pembangkit listrik tenaga air (PLTMH) yang terletak di Samarkilang, Kabupaten Bener Meriah Propinsi Aceh disini. Salah satu komponennya rusak dan harganya mencapai 40 juta, sebuah jumlah yang tak mudah dikumpulkan oleh masyarakat desa yang sederhana. Walhasil PLTMH ini mangkrak tidak berfungsi selama beberapa tahun hingga kini. Masyarakat tak mampu menangani dan pemerintah baik pemkab dan pemprov tak peduli. PLTMH yang seharusnya bisa menjadi solusi atas ketiadaan listrik maka kini menjadi problem juga.

Contoh lain adalah mobil listrik yang sampai hari ini tak pernah mencapai tahap komersialisasi alias beredar di pasaran luas. Dari sejumlah sumber, mobil listrik ini tak seindah yang dibayangkan untuk bisa diluncurkan bagi masyarakat luas. Harga suku cadangnya masih mahal, baterai yang menjadi sumber tenaga (power bank) sangat terbatas kemampuan penyimpanannya. Anda tentu tak mau mendorongnya bukan jika mobil habis bateri ditengah perjalanan? Dibutuhkan banyak colokan listrik (yang berfungsi semacam SPBU-nya) untuk mengisi ulang baterai. Membangun stasion pengisian listrik mungkin perkara mudah, tapi menyediakan listrik ribuan MW untuk mengisi jutaan kendaraan listrik ini perkara yang sangat sulit bagi Indonesia.

Belum lagi kita membicarakan pembiayaan dalam membangun teknologi ramah lingkungan tersebut. Biaya yang dibutuhkan relatif besar, mulai dari puluhan juta hingga ratusan juta, bukan hal gampang bagi masyarakat desa. Pengusaha pun jarang melirik usaha ini mungkin karena keuntungannya minim atau entahlah. Teknologi ramah lingkungan bukan hanya pekerjaan saat membangun saja yang penting, jauh lebih penting lagi adalah perawatan, menjaga sumbere-sumber energi tetap tersedia dan pemanfaatan energi juga tidak boros atau sebagaimana mestinya. Jadi teknologi ramah lingkungan yang dipersepsikan mudah oleh banyak kalangan sebenarnya juga tidak tepat. Ada banyak tantangan ke depannya.

Tapi hal ini bukan berarti mustahil mengembangkan teknologi lingkungan hingga bisa dinikmati masyarakat banyak. Tantangan dapat diselesaikan dengan belajar, kerja keras dan bekerja sama antar berbagai pihak. Menurut sejumlah ahli pun, teknologi ramah lingkungan pada akhirnya akan mendatangkan keuntungan yang berkelanjutan juga nantinya. Bagaimana menurut anda?[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *