Sepinya Energi Terbarukan

Kemiri Sunan | Foto: satunegeri.com

Hiruk pikuk politik di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo terus saja menghiasi media massa. Masyarakat banyak pun terbawa arus besar, terpecah dua antara tetap mendukung, mendukung dengan memberikan saran dan menghujat habis-habisan kebijakan pemerintah. Semua hingar bingar ini seperti tiada habisnya. Tapi dibalik itu semua sebenarnya banyak hal yang perlu diperhatikan kembali.

Misalnya saja isu energi terutama energi baru dan terbarukan yang kembang kempis. Isu ini naik turun sesuai dengan harga BBM. Jikalau harga BBM naik maka masyarakat ramai-ramai bicara tentang pentingnya energi alternatif (rekan saya menolak istilah ini-red) sebagai pengganti bahan bakar fosil. Tetapi ketika harga minyak dunia turun, pembicaraan energi terbarukan kembali silent. Bahkan di sebuah grup yang menyatakan dirinya sebagai grup Energiawan, pun menjadi hening. Masih ada satu-dua orang yang “mengetest” forum dengan melempar sebuah isu. Baik itu dari sisi teknologi maupun kebijakan. Tetapi responnya sangat minim.

Harus diakui negara dan masyarakat kita adalah masyarakat “keramaian”. Dimana ada suatu isu yang sedang ramai dibicarakan maka berbondong-bondong pun orang ikut menimpali. Ntah ahli, ntah tahu sedikit, ntah sok tau, semua pada nimbrung ikut ngoceh. Sayangnya masalah energi kini tidak seksi lagi, apalagi kalau bukan karena harga BBM cenderung turun. Buat apa ngomongin energi terbarukan lha wong energi fosil aja masih banyak dan murah. Mungkin ini yang terbenam dalam alam bawah sadar khalayak banyak walaupun tidak terucapkan.

Padahal Indonesia telah mempunyai road map pengembangan energi terbarukan yang telah disusun sejak tahun 2005. Pada tahun 2025 nanti diharapkan bauran (komposisi energi terbarukan) energi menjadi minyak bumi 20 persen, batu bara 35 persen, gas bumi 30 persen, panas bumi 5 persen, Bahan Bakar Nabati 5 persen, dan lain-lain 5 persen. Pertanyaannya apakah hal ini bisa tercapai? Perasaan saya, kalau melihat keadaan seperti ini rasanya target ini sulit tercapai.

Pengembangan energi terbarukan belum menjadi mainstreaming banyak pihak. Saya belum pernah mendengar ada pemerintah daerah yang mengalokasikan anggaran untuk pengembangan energi terbarukan di daerahnya. Mungkin ada sih, tetapi karena jarang maka nyaris tak terdengar. Padahal banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah bersama masyarakat di daerah, misalnya mendorong munculnya inisiatif-inisiatif pengembangan energi terbarukan. Jenis energi ini tidak susah penerapannya, bahkan di pedalaman sekalipun bisa dipraktekkan. Jika masyarakat sudah familiar dengan energi terbarukan, In Shaa Allah pemerintah dengan sendirinya akan maju dalam membangun energi terbarukan.[]