DAS Sungai Kr. Aceh Kritis, Hanya Dua Persen Bagus

Salah satu DAS Kr. Aceh di hulu yang menjadi target Galian C | Foto: M. Nizar Abdurrani

Daerah Aliran Sungai (DAS) Kr. Aceh saat ini mengalami kerusakan yang parah. Sungai ini merupakan sumber air bersih utama bagi warga kota Banda Aceh dan penduduk Aceh Besar. Dari data diperoleh, sekitar 2,36 persen DAS Kr. Aceh yang masih dalam keadaan baik. Sedangkan 25,77 persen berada dalam kondisi rusak. Total luas DAS Kr. Aceh mencapai 1.979,04 km2.

Fakta ini terungkap dalam Rapat Koordinasi Pengelolaan DAS Kr. Aceh, yang dibuka oleh Kepala Dinas Kehutanan Aceh, Ir.Husaini Syamaun MM, Jumat sore (1/11/2013) di Banda Aceh. Dalam kata sambutannya, Ir. Husaini mengatakan Sungai Kr. Aceh yang melewati empat kabupaten kota, Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie dan Aceh Jaya, perlu segera dipulihkan kondisinya. ” Kita perlu tahu aktivitas apa saja yang dapat memulihkan sungai ini ataupun aktivitas apa saja yang merusaknya,” ujar mantan Kepala Bapedal Aceh ini.

Secara visual, kondisi Kr. Aceh, terutama di daerah hulu sangat mengenaskan. Terjadi pendangkalan sungai, sehingga dasar sungai yang berupa bebatuan dan pasir kelihatan. Debit air juga sudah menurun, saat ini debit puncak terjadi pada bulan Mei (48,74 m3/dtk), sedangkan debit terendah terjadi bulan Agustus dan September (10,38 m3/dtk).

Sementara itu, dalam pemaparannya, Kepala Bidang Planologi Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Saminuddin B Tou, mengatakan semua pihak harus mencari tahu persoalan apa yang sedang terjadi sehingga Kr. Aceh mengalami kondisi kritis. ” DAS harus didiagnosis dulu biar tahu penyakitnya sehingga tahu obatnya. Bukan sekedar mengobati gejalanya saja,” ujarnya.

Ia menambahkan kesadaran masyarakat atas DAS masih minim, perambahan hutan disekitar DAS terus terjadi dan galian C di sungai. ” Kita jangan terpaku pada badan sungai, tapi juga harus periksa kondisi hulu sungai,” katanya.

Ia mengharapkan usaha merehabilitasi lahan DAS lebih cepat dibanding laju kerusakannya. ” Harus ada upaya ekstra untuk pemulihan kawasan, ” sambungnya.

Dari lembaran data yang dibagikan ke peserta pertemuan diperoleh ada hal yang kontradiktif. Dalaam lembaran tersebut dikatakan hutan di daerah DAS masih cukup baik dengan tutupan 38,52 persen (67,083 Ha) karena lebih besar dari standar 30 persen. Juga disebutkan kondisi tutupan lahan hutan berpotensi semakin berkurang.

Namun disisi lain dikatakan lahan kritis yang terdapat di DAS Kr. Aceh dengan kategori sangat kritis 9,12 persen, kritis 16,65 persen, kemudian agak kritis 35,84 persen, sedangkan potensial kritis 36,03 persen dan terakhir adalah tidak kritis 2,36 persen. Kontradiktif, luas hutan masih bagus tapi luas lahan kritis juga besar.

Saminuddin B Tou mengklarifikasi data tersebut dengan mengatakan bahwa luas tutupan hutan yang dimaksud adalah status kawasan hutan. ” Jadi redaksinya kurang tepat, karena yang dimaksud adalah status kawasan,” ujarnya.[m.nizar abdurrani]