close

taman nasional

Ragam

Kambing Janda di Taman Nasional Gunung Palung

Pada tanggal 20 – 24 Juni 2014 lalu, saya dari Aceh dan dua teman dari Riau berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) di Propinsi Kalimantan Barat. Kami bertiga merupakan pemenang lomba menulis dengan tema “Menyelamatkan Biodiversity, Menyelamatkan Hutan,” yang diselenggarakan oleh Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ), organisasi jurnalis lingkungan berkedudukan di Jakarta. Sebagai hadiahnya, panitia membawa kami mengunjungi TNGP yang memiliki luas 90.000 hektar dan bersinggungan dengan dua kabupaten yaitu Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara.

TNGP merupakan salah satu kawasan pelestarian alam yang memiliki keaneka-ragaman hayati bernilai tinggi, dan berbagai tipe ekosistem antara lain hutan mangrove, hutan rawa, rawa gambut, hutan rawa air tawar, hutan pamah tropika, dan hutan pegunungan yang selalu ditutupi kabut.

Taman nasional ini merupakan satu-satunya kawasan hutan tropika Dipterocarpus yang terbaik dan terluas di Kalimantan. Sekitar 65 persen kawasan, masih berupa hutan primer yang tidak terganggu aktivitas manusia dan memiliki banyak komunitas tumbuhan dan satwa liar.

Kawasan ini ditumbuhi oleh jelutung (Dyera costulata), ramin (Gonystylus bancanus), damar (Agathis borneensis), pulai (Alstonia scholaris), rengas (Gluta renghas), kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), Bruguiera sp., Lumnitzera sp., Rhizophora sp., Sonneratia sp., ara si pencekik, dan tumbuhan obat.

Tumbuhan yang tergolong unik di taman nasional ini adalah anggrek hitam (Coelogyne pandurata), yang mudah dilihat di Sungai Matan terutama pada bulan Februari-April. Daya tarik anggrek hitam terlihat pada bentuk bunga yang bertanda dengan warna hijau dengan kombinasi bercak hitam pada bagian tengah bunga, dan lama mekar antara 5-6 hari.

Tercatat ada 190 jenis burung dan 35 jenis mamalia yang berperan sebagai pemencar biji tumbuhan di hutan. Semua keluarga burung dan kemungkinan besar dari seluruh jenis burung yang ada di Kalimantan, terdapat di dalam hutan taman nasional ini.

Satwa yang sering terlihat di TNGP yaitu bekantan (Nasalis larvatus), orangutan (Pongo satyrus), bajing tanah bergaris empat (Lariscus hosei), kijang (Muntiacus muntjak pleiharicus), beruang madu (Helarctos malayanus euryspilus), beruk (Macaca nemestrina nemestrina), klampiau (Hylobates muelleri), kukang (Nyticebus coucang borneanus), rangkong badak (Buceros rhinoceros borneoensis), kancil (Tragulus napu borneanus), ayam hutan (Gallus gallus), enggang gading (Rhinoplax vigil), buaya siam (Crocodylus siamensis), kura-kura gading (Orlitia borneensis), dan penyu tempayan (Caretta caretta). Tidak kalah menariknya keberadaan tupai kenari (Rheithrosciurus macrotis) yang sangat langka, dan sulit untuk dilihat (Dishut.go.id).

Perjalanan menuju TNGP kami tempuh dari Pontianak, Ibu kota Propinsi ini dengan menggunakan pesawat berukuran sedang dan mendarat di Bandara Rahadi Usman, di Ketapang. Ada yang menarik melihat pemandangan di Bandara Supadio Pontianak, penumpang berjejalan di pintu masuk, bagaikan suasana di terminal bus saja layaknya. Ragam penampilan penumpang sangat bervariasi, dari model penampilan orang desa hingga tampang pengusaha. Rupanya menurut cerita teman, seorang jurnalis lingkungan asal Pontianak, Daeng Rizal, transportasi darat di Kalimantan sangat buruk sehingga banyak masyarakat memilih pesawat untuk bepergian antar satu daerah.

Dari Ketapang untuk menuju TNGP masih dibutuhkan dua jam perjalanan darat lagi. Tapi ini sebenarnya belum masuk zona inti atau kawasan hutan lebat TNGP tetapi hanya kawasan pinggiran yang banyak pemukiman. Hari pertama ini kami langsung menjumpai masyarakat yang bermukim di pinggiran hutan TNGP untuk bersilaturahmi dan wawancara tentang program konservasi hutan.

Desa yang kami kunjungi pertama adalah Desa Sedahan, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Warga yang didukung oleh organisasi lokal bernama Yayasan Asri menjalankan program penyelamatan hutan sambil memberdayakan kehidupan masyarakat. Segudang problematika khas penduduk sekitar hutan ada di desa ini mulai dari batas hutan yang tidak jelas, tanah dan kebun mereka masuk ke dalam wilayah TNGP dan pembukaan hutan menjadi kebun sawit. Namun kini banyak masyarakat desa yang dulunya merupakan penebang liar kini telah beralih menjadi petani atau menjalankan usaha lainnya.

Seperti yang kami temui hari itu, satu kelompok tani yang dulunya merupakan penebang liar. Pak Jono, bekas penebang liar berkisah kepada kami tentang pekerjaannya dulu. “ Kalau dipikir-pikir duit yang kami dapat dulu tidak banyak. Memang totalnya banyak tetapi setelah potong hutang sana-sini paling bisa kami bawa pulang 1 juta. Sekarang dengan bertani kami bisa mendapat lebih,”katanya.

Yayasan Asri membantu masyarakat dengan berbagai program uniknya di bidang kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Mereka mendirikan klinik dan menyediakan obat-obat berkualitas bagi warga sekitar hutan. Program kesehatan ini menjadi menarik karena menerapkan sistem “reward and punishment” bagi warga yang menjaga hutan. Sebagai contoh, desa-desa di sekitar hutan diberi label zona merah dan zona hijau. Bagi warga desa yang tinggal di zona merah, jika berobat ke klinik hanya mendapat diskon 30 persen. Sedangkan bagi penduduk yang tinggal di zona hijau mendapat potongan harga jauh lebih besar yaitu 70 persen.

Zona merah berarti di desa tersebut ditemukan tumpukan kayu ilegal, kegiatan penebangan liar dan gergaji mesin. Sebaliknya jika zona hijau berarti desa tersebut telah aman dari kegiatan yang merusak hutan. Jadi masyarakat akan menjaga desanya agar tidak masuk dalam zona merah atau menjaga desanya tetap zona hijau mengingat pelayanan kesehatan yang diberikan sangat berkualitas walaupun sebenarnya ada Puskesmas yang memberikan obat gratis di sekitar mereka. Warga lebih percaya kepada dokter-dokter klinik Yayasan Asri yang berasal dari berbagai daerah bahkan ada dokter dari luar negeri.

Program pemberdayaan yang dilakukan antara lain memberikan pelatihan pertanian organik bagi masyarakat seperti membuat pestisida alami, kompos dan sebagainya.  Selain itu masyarakat juga melakukan penanaman pohon-pohon untuk rehabilitasi hutan baik pohon yang menghasilkan kayu maupun pohon yang memiliki buah. Pohon yang berbuah ini sangat penting sebagai makanan satwa agar hewan-hewan ini tidak mengganggu pertanian penduduk.

Selain itu pohon-pohon yang berbuah dapat menjadi koridor satwa antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Bagi saya program pemberdayaan Yayasan Asri yang paling menarik adalah “ Kambing untuk Janda”. Ketika pertama mendengar kata “kambing janda”, saya pikir ini hanya becandaan orang setempat saja. Ternyata ini adalah program pemberian kambing kepada janda kurang mampu untuk dipelihara dan hasilnya nanti digulirkan (revolving) kepada janda lain. Konsultan Teknis Pemeliharaan kambing, Muhammad Yusuf menceritakan awalnya program Kambing untuk Janda ini idenya dari seorang janda warga negara Amerika Serikat yang berkunjung ke daerah TNGP. Janda ini kemudian berinisiatif mengumpulkan dana dari rekan-rekannya sesama janda dan dana ini dibelikan kambing yang diserahkan kepada janda miskin yang bermukim sekitar hutan.

“Syarat penerima bantuan adalah janda miskin berumur 50 tahun keatas, miskin, tidak punya anak atau cucu berkecukupan atau PNS. Kami mensurvey janda calon penerima yang nama-namanya diberikan oleh kepala desa. Saat ini ada sekitar 180 janda penerima kambing dari 9 desa, setiap janda mendapatkan sepasang kambing. Namun kambing jantannya digilirkan antara betina-betina lain. Kalau kambing sudah beranak maka anaknya diberikan kepada janda lain,” jelas Muhammad Yusuf. Program ini sudah dimulai sejak tahun 2008 lalu dan sampai saat ini pelaksanaannya terus dimonitor oleh yayasan.

Salah seorang janda penerima kambing, Fatimah, 64 tahun, sempat kami jumpai saat sedang menggembalakan kambingnya di daerah berumput pinggir pantai. Ia mendapat bantuan kambing tahun 2012 dan kini telah mempunyai enam ekor kambing. Janda dengan 6 anak ini seharian menjaga kambingnya agar tidak dimakan anjing atau predator lainnya. Harga kambing sangat tinggi di daerah ini, harganya dihitung perkilogram berat tubuh kambing yang masih hidup.

“Kalau kambing jantan harganya 70.000 per kilo, kalau kambing betina 40.000 per kilo,” kata Fatimah. Kambingnya sendiri saat ini masih kecil-kecil selain induknya, jadi Fatimah belum bisa menaksir berapa harga total peliharaannya tersebut.

Fatimah menjaga kambingnya sepenuh hati dan jiwanya. Sehari bisa 4-5 jam ia menggembalkan kambing yang dimulai dari pagi hari. Sorenya ia masih mencari umpan untuk dimakan kambingnya di dalam kandang. Ini sangat berbeda dengan yang saya lihat di Aceh, dimana pemilik kambing seenaknya saja melepaskan hewan bertanduk ini sehingga merusak tanaman orang lain.

Unik, ini sepertinya baru saya mendengar ada program khusus untuk janda yang tinggal sekitar hutan.  Program pelestarian hutan yang disatukan dengan program pemberdayaan masyarakat memang sangat penting. Apa artinya hutan lestari jika masyarkat tidak sejahtera, ungkapan seorang tokoh masyarakat setempat. Ini seperti motto Yayasan Asri, Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera.

Memang tiga hari yang melelahkan melakukan perjalanan sambung menyambung antara pesawat terbang dan jalan darat. Tetapi Insya Allah perjalanan ini memberikan banyak inspirasi bagi saya.[]

read more
Ragam

Polhut Memergoki Manusia Kerdil di TN Way Kambas

Polisi Kehutanan (Polhut) Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memergoki belasan manusia kerdil saat melakukan patroli di kawasan hutan tersebut.

Manusia kerdil yang sempat dipergoki tersebut, menurut petugas Polhut, berambut gimbal, memegang tombak kayu, tinggi badannya tak lebih dari 50 cm, dan tidak mengenakan penutup tubuh sedikit pun. “Panjang rambutnya ada yang sampai sepinggul,” ujar Humas TNWK Sukatmoko di kantornya kemarin (22/3/2014) seperti dilansir laman lampost.co.

Menurut Sukatmoko, keberadaan manusia kerdil itu diketahui petugas Polhut yang tengah berpatroli di hutan pada Minggu (17-3) lalu, menjelang magrib.

Saat itu sekelompok liliput yang jumlahnya sekitar 15 orang tengah berjalan menyusuri rawa. Rombongan Polhut sempat memantau keberadaan mereka sekitar 5 menit pada jarak pandang sekitar 35 meter.

Ketika petugas hendak mendekat, orang-orang kerdil itu langsung menyelinap ke balik pohon lebat dan segera menghilang. “Orang-orang kerdil itu larinya cepat luar biasa dan loncatannya jauh,” ujar Sukatmoko.

Petugas juga tidak bisa memastikan apa yang sedang dilakukan oleh rombongan manusia langka tersebut karena jaraknya cukup jauh. “Yang jelas, dari belasan orang itu, satu di antaranya tengah menggendong bayinya,” kata Sukatmoko.

Rabu (20/3) lalu, lanjutnya, anggota Polhut TNWK yang sedang berpatroli kembali melihat keberadaan mereka di tempat yang sama, tetapi dari jarak lebih jauh dan lebih singkat waktunya.

Pasang Kamera

Sukatmoko belum bisa memastikan apakah orang kerdil tersebut memang bertempat tinggal di hutan TNWK atau pendatang dari pulau lain. Untuk merekam keberadaan mereka, kini pihak Balai TNWK mengirim sejumlah peralatan elektronik dan kamera yang menggunakan lampu inframerah.

“Dengan alat tersebut, jika manusia kerdil itu keluar pada malam hari, tetap akan terekam. Kami berusaha mengetahui perkumpulan orang kerdil itu melalui kamera tersembunyi,” kata dia.

Menurut Sukatmoko, bila sudah tertangkap gambar dan benar terbukti ada perkampungan orang kerdil, pihaknya segera menginformasikan kepada Menteri Kehutanan, bahkan kepada Presiden, guna meminta petunjuk langkah apa yang akan diambil.

“Jika sudah ditemukan, kami juga berharap pemerintah bisa melindungi perkumpulan manusia langka itu. Anggota kami sudah mengetahui dengan mata secara langsung, tetapi belum bisa mengabadikan dengan kamera karena pada waktu itu tidak ada persiapan kamera,” ujar Sukatmoko.

Kisah manusia kerdil sudah dikenal di sejumlah hutan di Indonesia, di antaranya di wilayah Kerinci Seblat, Sumatera Barat; Liang Bua di Flores; dan di Bone, Sulawesi Selatan. Di Kerinci, mereka dikenal dengan sebutan orang pendek, di Flores sebagai Homo floresiensi, sedangkan di Bone dikenal sebagai Suku Oni. Di Gunung Kerinci, makhluk itu digambarkan memiliki kaki terbalik, telapak kakinya menghadap ke belakang, tetapi dapat bergerak lincah di antara lebatnya hutan.

Meskipun sudah banyak yang mengaku melihatnya, belum ada yang berhasil mengabadikan dengan kamera karena waktu pertemuan yang sangat singkat atau ketiadaan kamera. (Lampost.co).

Sumber: beritalingkungan.com

read more
Ragam

Mengunjungi Alam Liar Afrika Selatan

Mungkin kata apartheid dan Afrika Selatan tidak asing lagi bagi kita. Kata ini mulai banyak dibicarakan pada era 1970-an. Kata ini merujuk pada model kepemimpinan yang membedakan ras atau warna kulit dengan makna negatif yang terkandung didalamnya. Apartheid kian menjadi popular tahun 1994 dan tahun-tahun berikutnya; setelah perjuangan untuk menentang model kepemimpinan ini berhasil dilakukan.

Perjuangan ini dipelopori oleh Nelson Mandela yang kemudian menjadi Presiden pada pemilu tahun 1994. Tapi, saya tidak akan banyak bercerita dan melanjutkan sejarah Negeri Pelangi ini, karena saya bukanlah seorang sejarawan. Yang saya ingin berbagi disini adalah apa yang saya lihat, rasakan dan nikmati pada perjalanan tahun lalu ke Negeri Madiba (Madiba adalah panggilan khusus rakyat Afrika Selatan untuk Nelson Mandela). Karena setiap perjalanan pasti mempunyai catatan dan pelajaran untuk dibawa ke negeri sendiri.

Perjalanan saya ke Republik Afrika Selatan adalah untuk mengikuti International Workshop Reunite-Retreat-Reflect yang merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan Climate Leadership Program (CLP) yang dilaksanakan oleh Deutsche Gesellschaft fuer Internationale Zusammenarbeit (GIZ German), CCROM-SEAP Institut Pertanian Bogor (IPB Indonesia) dan University of the Witwatersrand South Africa. Tentang program keren ini, saya akan bercerita di lain kesempatan.
Bertolak dari Soekarno Hatta Int’l Airport, saya menuju ke OR Tambo Int’l Airport melalui Doha Int’l Airport di Qatar.

Tak lama waktu yang saya tempuh untuk mencapai Johannesburg (Joburg), hanya  tujuh belas jam; sudah termasuk waktu menikmati indahnya bandara Doha Int’l; transit. Ditemani Padang Bulan Andrea Hirata dan alunan musik yang tersedia di pesawat (saya sedikit kurang puas, karena pesawat ini tidak ada musik dangdut) plus doa keselamatan akhirnya Alhamdulillah saya mendarat mulus di OR Tambo Int’l Airport yang berada di sebuah kota yang paling berdenyut di Afrika Selatan; Joburg.

Yup, seperti biasanya memasuki Negara orang, pastinya kita akan dimintai keterangan yang berurusan dengan keimigrasian. Dan satu kata untuk hal itu; lancar. Namun, yang terjadi selanjutnya adalah kejadian lucu yang mungkin akan terpatri di dalam hati saya untuk beberapa waktu yang sangat lama. Sambil menunggu koper keluar dari tempat persembunyiannya, beberapa teman dari Indonesia dan saya bercengkrama ria mengenai falsafah hidup. Yang kemudian, cengkrama kami diusik oleh seekor anjing dan tuannya (petugas bandara).

Dengan senang hati kami menerima usiknya mereka berdua; karena mereka sama sekali tak punya alasan untuk mengintegorasi kami mengenai apa yang ada dalam tas ransel dan tas tangan kami. Dan keduanya melenggang kangkung diikuti senyum lebar saya dan juga teman-teman.

Hanya berselang lima menit, anjing kecil nan lucu itu kembali memberikan endusannya, tak tanggung-tanggung, langsung menyapa manis ke ransel saya. Dan serta merta, majikannya pun penasaran, apalagi saya; luar biasa penasaran (sambil bertanya dalam hati, apakah Ibu saya memasukkan daging rendang atau dendeng kedalam ransel besar itu?) Petugas bandara tersebut melebarkan senyum dan meminta saya untuk membuka ransel hitam manis saya.

Bagaikan tertuduh tapi tak berbuat jahat, langsung dengan semangat saya membuka ransel yang isinya kraker, biscuit, keurupuk mulieng belum diolah (emping), dan tiga bungkus bubuk kopi Solong (ukuran ¼ kg) dan tentu beberapa benda yang tak penting tapi sangat ingin saya bawa serta. Dan kebenaran ada dipihak saya, bahwa saya tidak sedang membawa daging-daging dan sesuatu yang melanggar aturan perjalanan keluar negeri (misalnya narkoba, uang hasil korupsi dan lainnya). Tapi, anjing itu sangat bersikeras, dia sangat suka dengan isi ransel saya. Kejadian ini berakhir dengan majikan yang menarik keras anjingnya untuk menjauhi ransel saya dan seringai tawa dari teman-teman Indonesia.

Baru-baru ini saya mengetahui bahwa anjing sangat sensetif dengan bau kopi. Jadi, beruntungnya saya adalah bubuk kopi Solong dibungkus dengan plastic transparan yang dengan langsung bisa dilihat oleh petugas bandara, tanpa harus membuka dan mengeluarkan bubuk kopi tersebut. Terima kasih Solong!

Berada di Negara yang dulu selalu disebut-sebut dalam buku Sejarah SD hingga SMA, membuat saya terlalu bersemangat. Meski udara awal musim dingin mulai menyapa yang merupakan pertanda kurang baik bagi saya yang berasal dari Negara tropis. Semangat itu tetap membara, apalagi membayangkan hidangan makanan penuh cita rasa; undangan makan malam dari Kedutaan Besar Republik Indonesia Afrika Selatan di Pretoria. Betapa bersyukur menjadi seorang yang hidup di daratan yang mempunyai hasil alam berlimpah dengan ragam rempah yang luar biasa.

Hanya semalam menginap di Joburg, esok hari kami dengan rombongan besar (Indonesian, South African, dan Germany) menuju ke Rustenburg (tempat berlangsungnya workshop yang saya sebutkan sebelumnya, sekitar dua jam tiga puluh menit dari Joburg). Perjalanan menuju Rustenburg, diselingi dengan kunjungan ke beberapa tempat bersejarah di Joburg. Kami mengelilingi kota Joburg dengan tiga orang pemandu yang merupakan para penggiat dari komunitas Fietas. Fietas adalah nama sebuah tempat; yaitu tempat berkumpulnya ras kulit berwarna, Malay, Indian sebelum tahun 1970an. Namun, setelah tahun tersebut, masyarakat yang beragam warna kulitnya kemudian direlokasikan ke tempat yang jauh karena adanya kebijakan apartheid.

Memanglah, membeda-bedakan manusia berdasarkan warna kulitnya adalah hal yang sangat menyedihkan (tak banyak cerita yang ingin saya bagi untuk hal ini, terlalu sedih). Selanjutnya adalah pemandangan beberapa mesjid di Negara yang mempunyai populasi penganut agama Islam sebesar kurang lebih dua persen. Mesjid yang terekam di otak saya adalah Mesjid Ahmadiyah dan Mesjid Hanafi.

Tak banyak yang bisa saya ceritakan tentang keduanya, karena kami hanya berlalu pandang didepan mereka. Ada yang membuat saya sangat antusias di kota Joburg ini, yaitu melihat tempat pemakaman umum; benar-benar umum, mendapatkan semua ras ada di pemakaman ini adalah hal yang luar biasa; Muslim, China, India, Yahudi, Nasrani dan lainnya). Ada satu makam seorang Muslim yang terlihat sangat anggun; beliau adalah seorang ulama yang menyebarkan Islam di Afrika dan diyakini berasal dari tanah Melayu, saya hanya mengingat nama akhirnya; Ja’far. Semoga Allah selalu memberkati beliau. Amiiin.

Tenaga untuk menjelajah Joburg masih banyak, semangat untuk mengambil hikmah disetiap langkah berjalan masih tinggi. Tujuan selanjutnya adalah Cradle of Humankind di Maropeng, salah satu bagiannya adalah Gua Sterkfontein. Tempat ini telah disahkan sebagai salah satu Warisan Dunia pada tanggal 2 Desember 1999 oleh UNESCO karena kekhasan lahannya yang mengandung sangat banyak fossil dan artifak masa lampau. Ditempat inilah, para peneliti ilmiah meyakini bahwa nenek moyang manusia berasal. Kalau kita ke Aceh Tengah, disungguhi dengan cerita Puteri Pukes dan juga Loyang Koro, maka disini suguhan ceritanya adalah tentang penemuan ilmiah manusia pertama di bumi (ini adalah katanya ilmuwan, bukan kata saya).

Ada satu peringatan yang selalu dilantunkan oleh pemandu, “tetaplah berada dekat dengan saya, karena jika tidak, anda akan tersesat dan akan ditemukan setelah empat ratus tahun kemudian”. Angka tersebut cukup membuat seseorang menjadi fosil yang kemudian akan diumumkan sebagai manusia yang pertama yang tersesat di gua tersebut. Saat itu, saya berpikir hanya ingin cepat keluar karena sama sekali tidak nyaman didalam gua yang gelap meski sangat indah dengan pemandangan stalaktit dan stalaknit dan juga danau yang berkedalaman empat puluh meter.

Berkunjung ke benua Afrika, tak lengkap rasanya jika tidak menikmati alam liar dengan melihat langsung kegiatan sehari-hari para binatang. Dan Taman Nasional Pilanesberg (TN Pilanesberg) adalah tujuan untuk memenuhi kesempatan bersafari ria. TN ini dulunya adalah tanah pertanian milik masyarakat yang kemudian diubah menjadi TN yang dilatarbelakangi oleh alasan wisata alam. Sebelum dijadikan TN, adalah proses yang sangat panjang menyertai kelahirannya. Proses dan tantangan menjadi dua hal yang menarik bagi saya yang hidup disebuah Negara yang mempunyai beberapa TN.

Misalnya, ada proses tawar-menawar dengan masyarakat setempat yang berakhir baik, juga penelitian yang komprehensif tentang tumbuhan apa saja dan jumlahnya berapa untuk bisa memenuhi kebutuhan binatang yang akan menghuni TN tersebut. Mungkin, ada baiknya Pengelola Taman Nasional di Aceh sesekali berkunjung ke Afrika Selatan untuk mengambil beberapa pelajaran yang bisa dibawa pulang dan dikembangkan (ini hanya sekedar saran dari seorang naif seperti saya).

Penulis adalah Anggota Aceh Climate Change Studies (ACCeS)  dan aktif di berbagai kegiatan lingkungan di Aceh

sumber: acehclimatechange.org

read more
Ragam

Mengenal Ujong Kulon, Hutan Tropis di Jawa Barat

Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Jawa bagian Barat. Di sinilah habitat ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka badak jawa (Rhinoceros sondaicus). Terdapat tiga tipe ekosistem di taman nasional ini yaitu ekosistem perairan laut, ekosistem rawa, dan ekosistem daratan.

Keanekaragaman tumbuhan dan satwa di TNUK mulai menarik minat para peneliti dan pakar botani Belanda dan Inggris sejak tahun 1820. Kurang lebih 700 jenis tumbuhan terlindungi dengan baik dan 57 jenis diantaranya langka seperti merbau (Intsia bijuga), palahlar (Dipterocarpus haseltii), bungur (Lagerstroemia speciosa), cerlang (Pterospermum diversifolium), ki hujan (Engelhardia serrata) dan berbagai macam jenis anggrek.

Sedangkan satwanya terdiri atas mamalia, primata, reptilia, amfibia, burung, insekta, ikan, dan terumbu karang. Satwa langka dan dilindungi selain badak jawa adalah banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), surili (Presbytis comata comata), lutung (Trachypithecus auratus auratus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus), kucing batu (Prionailurus bengalensis javanensis), owa (Hylobates moloch), dan kima raksasa (Tridacna gigas)

Dengan kekayaan flora dan fauna, serta keunikan alamnya, taman ini tak pelak menjadi objek wisata alam yang menarik. Sungai-sungai dengan jeramnya, air terjun, pantai pasir putih, sumber air panas, taman laut, dan peninggalan budaya/sejarah (Arca Ganesha di Gunung Raksa Pulau Panaitan) menjadi rangkaian objek yang menggugah minat wisatawan berjiwa petualang. Kesemuanya merupakan pesona alam yang sangat menarik untuk dikunjungi dan sulit ditemukan di tempat lain.

Di perairannya tersimpan jenis-jenis ikan yang menarik seperti ikan kupu-kupu, badut, bidadari, singa, kakatua, glodok, dan sumpit. Ikan glodok dan ikan sumpit adalah dua jenis ikan yang sangat aneh dan unik. Ikan glodok memiliki kemampuan memanjat akar pohon bakau, sedangkan ikan sumpit memiliki kemampuan menyemprot air ke atas permukaan setinggi lebih dari satu meter untuk menembak memangsanya (serangga kecil) yang berada di daun-daun yang rantingnya menjulur di atas permukaan air.

Bersama Cagar Alam Krakatau, TNUK merupakan aset nasional dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991.

Untuk mencapai kawasan Taman Nasional Ujung Kulon dapat dicapai melalui jalur darat dan laut. Jalur darat dapat ditempuh menggunakan angkutan umum bus jurusan Jakarta (Kalideres)-Labuan atau Jakarta (Kp. Rambutan)-Serang-Labuan, kemudian dilanjutkan dengan angkutan umum minibus/elf jurusan Labuan-Sumur-Tamanjaya. Sedangkan melalui laut bisa menggunakan kapal sewaan (longboat atau slowboat) yang biasa disewakan di Labuan/Carita, Sumur, atau Tamanjaya.

Sumber: NGI/intisari-online.com

read more