close
Green Style

Jerinx SID: Pantai Kuta Sudah Kehilangan Ruhnya

Personil SID | Foto: greenersmagz

Marah buminya, makin tak terkendali
Marah buminya, kita semua kan mati
Marah buminya, makin tak teratasi
Marah buminya, semua mati dan terluka!

Bait di atas bukan mengajak orang lain untuk marah, melainkan penggalan lirik lagu berjudul “Marah Bumi” yang dipopulerkan “Superman Is Dead”, sebuah kelompok musik yang besar di Bali. Cara bermusik “Superman Is Dead” atau dikenal SID itu memang terkesan garang. Tapi percayalah kegarangan Bobby Kool (vokal), Eka Rock (bass), dan Jerinx (drum) itu hanya sebatas gaya bermusik. Mereka yang selama ini bermarkas di Jalan Poppies II, Kuta, itu memiliki kecintaan yang boleh dibilang luar biasa terhadap alam.

Wajar, markas mereka memang berada hanya beberapa meter dari garis Pantai Kuta, salah satu objek wisata bertaraf internasional, yang dari tahun ke tahun mengalami degradasi kualitas natural. Kuta yang menjadi tempat favorit untuk berselancar dan berjemur, kini sudah mulai ditinggalkan seiring dengan makin menjamurnya destinasi wisata pantai di Bali dan tempat-tempat lain yang tak kalah menariknya. Bahkan, hampir setiap tahun di Bali selalu ada objek wisata baru yang menawarkan pesona dan panorama alami titisan Dewata.

Sebagai pemuda yang lahir dan besar di Bali, Jerinx merasa tergugah dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Dalam berbagai kesempatan pria yang bernama lengkap I Gusti Ary Astina itu selalu menyerukan pelestarian alam.

jerinx“Hampir sebulan sekali, kami mengajak ‘outsider’ (julukan penggemar fanatik SID) untuk bersih-bersih pantai,” tutur Jerinx mengawali obrolannya di sebuah kafe favoritnya di kawasan Kerobokan, Kuta, sambil mengiringi perjalanan matahari menuju peraduannya.

Ia tak rela Kuta sebagai kampung halamannya itu “sakit” dan merana akibat ketidakpedulian. Orang-orang datang dari berbagai penjuru, hanya menikmati keindahan tanpa bisa memberikan kontribusi positif untuk kelestarian alam. Pantai Kuta tidak hanya sesak oleh pelancong dari berbagai ras, melainkan juga penuh oleh tumpukan sampah. Sisa-sisa aneka kebutuhan manusia itu berbaur dengan material hutan di seberang pulau dapat dengan mudah dijumpai di atas hamparan pasir putih Pantai Kuta.

Sebagian pemangku kepentingan menyebutnya sebagai “sampah kiriman”, namun sebagian besar pelaku industri pariwisata justru menciptakan sampah. Semua saling tuding, saling merasa benar, tanpa sedikit pun berupaya mengatasi persoalan sampah yang makin tak terkendali.

Melalui komunitasnya sebagai anak “band”, Jerinx mengajak anak muda untuk peduli terhadap lingkungan. “Bersih-bersih pantai kami iringi dengan bersepeda bersama,” kata pria yang hampir seluruh badannya itu dipenuhi tato.

Kegiatan itu dia mulai sejak 2005. “Sebenarnya tidak hanya pantai, tapi juga tempat-tempat lain, seperti Taman Kota, yang layak mendapat perhatian saya dan teman-teman. Kegiatan kami ini sekaligus untuk mengedukasi masyarakat secara langsung,” ucapnya.

Jerinx tak ingin disebut sebagai pelestari lingkungan karena merasa upaya yang dia lakukan selama ini tidak seberapa, apalagi dibandingkan dengan tingginya tingkat kerusakan alam. Namun dia tak ingin hanya berwacana lewat lagu yang biasa dibawakan bersama teman-temannya di SID.

“Kami tidak ingin hanya berwacana saja saat di atas panggung. Kami memberi contoh sekaligus melibatkan teman sebaya melalui perilaku sehari-hari. Memang hal ini tidak mudah, butuh pengorbanan dan kepedulian,” ujarnya.

Ajakan SID itu dia sampaikan melalui jejaring sosial. Tidak hanya soal kebersihan, Jerinx juga memberikan beberapa tips, seperti membuang sampah plastik, merokok tanpa mengotori dan mencemari lingkungan, dan hal-hal kecil lain yang selama ini luput dari perhatian semua orang.

“Kami berharap edukasi melalui tindakan nyata dan sosial media dapat menjadi inspirasi bagi ‘outsider’ sekaligus diimplementasikan oleh orang-orang lain dalam kehidupan sehari-hari,” kata penggebuk drum kelahiran 36 tahun silam itu

Berbeda karena Peduli
Kepedulian Jerinx dan teman-temannya di SID terhadap pelestarian lingkungan memang tidak perlu diragukan lagi. Selain menyuarakannya lewat tembang-tembang ciptaannya, Jerinx juga melakukan aksi nyata. Bahkan, tidak jarang pendapatannya dari panggung hiburan musik di Tanah Air itu disalurkannya untuk mewujudkan cita-cita idealnya sebagai manusia yang peduli terhadap Tuhan, sesama, dan lingkungan sebagaimana filosofi hidup masyarakat Pulau Dewata, yakni Tri Hita Karana.

“Dalam bermusik, kami tidak hanya bisa menjual kreativitas, melainkan juga memberikan sesuatu yang manfaat kepada alam. Sederhananya, bukankah musik itu setidaknya punya nafas keadilan, kemanusian, dan alam,” katanya berfilsafat.

Dia berpendapat bahwa seni tidak melulu menjadi alat untuk mencari uang atau keuntungan material semata, melainkan harus bisa memberikan sumbangsih pada sisi-sisi kemanusian. “Komersial boleh, asalkan ada kesimbangan antara idealisme dan kebutuhan pasar,” ucap pemilik sejumlah “distro” di kawasan Kuta itu.

“Apabila terlalu idealis, tentu grup band itu tidak akan mampu bersaing dalam industri musik. Komersial itu tidak apa-apa, asalkan gerakan untuk melakukan perubahan tetap dilakukan. Kami ingin melahirkan agen-agen perubahan sebanyak mungkin di Indonesia,” ujarnya.

Dalam kehidupan nyata, dia melihat kerusakan alam ini makin parah. Pemangku kepentingan hanya mencari keuntungan sesaat. “Ekologi di Pulau Bali sangat mengkhawatirkan. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kelestarian lingkungan,” ucapnya dengan nada yang sedikit meninggi.

“Kami kira solusi dari keadaan tersebut adalah melakukan revolusi dalam artian melakukan perubahan secara besar-besaran untuk menghilangkan cara pemikiran yang merusak itu,” katanya menambahkan.

Oleh sebab itu, menurut dia, masyarakat Bali sangat membutuhkan pemimpin yang figurnya seperti Jokowi. Kebetulan saat ini situasi politik di Bali sedang hiruk-pikuk menjelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali untuk periode lima tahun mendatang.

Karena itu pula dalam berbagai kesempatan, Jerinx yang mendapatkan hak suara pada Pilkada Bali 15 Mei mendatang itu terus menyuarakan tentang alam yang harus menjadi perhatian bagi pemimpin masa depan di pulau yang dikenal keindahannya itu oleh masyarakat dunia.

“Kami justru khawatir jika nanti tanah milik warga Pulau Dewata akan beralih kepada para pemilik modal. Gejala ini sudah lama terjadi sehingga butuh pemimpin yang punya kekuatan untuk menahan gempuran pemilik modal. Sudah lama sekali masyarakat Bali ini jadi penonton,” kata pria yang tak pernah lepas dari rokok tersebut.

Pada bulan Mei yang bertepatan dengan hiruk-pikuk politik di Bali, SID berencana meluncurkan album baru. Di album itu terdapat 17 lagu berisi kritik sosial.  “Beberapa permasalahan sosial yang ingin kami tuntut, antara lain, pemberdayaan bisnis lokal, pola pikir aparat hukum, ketertiban umum, filterisasi wisatawan, pembatasan kendaraan, dan mempertahankan harga diri,” ucapnya.

Jerinx dan SID tidak hanya keras dalam menyampaikan kritik pedas, tapi mereka juga sudi turun sendiri untuk menyatukan jiwa dengan alam. Bahkan, tanpa sungkan-sungkan kritik pedas dan keras juga kerap disampaikannya kepada penguasa, termasuk Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. Beberapa kali Jerinx dan teman-temannya mengajukan pertanyaan yang menohok uluhati penguasa, terutama terkait kualitas lingkungan yang makin menurun akibat pesatnya perkembangan industri pariwisata.

Jerinx tentu sudah tidak bisa lagi merasakan embusan angin semilir yang membuat daun-daun kelapa di Pantai Kuta melambai-lambai bagaikan jemari gadis Bali yang menari diiringi gemelan. Pantai Kuta sudah menjadi komoditas industri pariwisata, tapi tak satu pun dari pelaku industri yang memperlakukannya dengan ramah. Semilir angin laut di selatan Pulau Dewata itu kini sudah tidak lagi menerpa wajah dan menyibakkan rambut gadis-gadis Bali karena telah terhalang oleh bangunan megah yang berjejer di pinggir pantai sebagai perlambang supremasi kapitalisme. “Pantai Kuta sudah kehilangan ruhnya,” pungkas Jerinx. []

Sumber: greenersmagz.com

Tags : balipantaiwisata

Leave a Response